Al-Hafizh Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Jarir rahimahullah yang mengkisahkan: Dahulu Ka’ab Al-Ahbar adalah seorang ulama Yahudi di Negeri Yaman. Dia datang untuk menuju ke Baitul Maqdis (di Syam). Dia melewati kota Madinah pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. ‘Umar radhiyallahu ‘anhukemudian menemuinya, dan berkata kepadanya: “Wahai Ka’ab, masuklah ke dalam Islam.” مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (Al-Jumu’ah: 5) Sedangkan aku membawa Taurat.” ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pun meninggalkannya. Kemudian Ka’ab keluar dari Kota Madinah lalu dia memasuki Kota Hims. Dia mendengar salah satu penduduk Hims dalam keadaan sedih sedang membaca ayat: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا “Wahai ahli kitab, berimanlah kalian kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur’an), yang membenarkan Kitab yang ada bersama kalian, sebelum Kami mengubah muka (kalian), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami laknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.” (An-Nisa’: 47) Ternyata Ka’ab sangat terpengaruh dengan ayat ini. Dia pun berkata: “Wahai Rabbku, aku masuk ke dalam Islam.” Dia takut terkena ayat ini. Kemudian Ka’ab kembali ke keluarganya di Negeri Yaman. Lalu dia datang bersama mereka dalam keadaan telah masuk Islam. (Tafsir Ibnu Katsir: Surat An-Nisa’ ayat 47) Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini (Al-Baqarah: 120), “Dalam ayat ini Allah mengancam keras umat Islam dari mengikuti jalan-jalan Yahudi dan Nashrani, setelah mereka mengetahui dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang jalan-jalan mereka.” FATWASYAFII.WORDPRESS.COM
Ka’ab menjawab: “Bukankah kalian membaca dalam kitab suci kalian:
Jumat, 08 Oktober 2010
ANCAMAN BAGI YANG TIDAK MENGIKUTI ALQUR'AN DAN HADITS
Minggu, 19 September 2010
Pendapat Imam Syafii dan Imam Lain tentang Ilmu Kalam
Kita telah mengetahui sebagian pendapat Imam Syafii tentang hukuman bagi ahli kalam. Untuk lebih meyakinkan kita tentang bahayanya ilmu kalam, akan dibawakan perkataan para imam yang lainnya tentang ilmu kalam.
Telah banyak ungkapan para salaf, seperti Imam Syafii, Imam Ahmad dan lainnya yang memperingatkan dari ilmu kalam dan ahli kalam. Dan sebagaimana yang telah lalu bahwa ilmu kalam akan menghantarkan kepada syubhat (kesamaran) dan keraguan-keraguan.
I. Perkataan-perkataan Imam Asy-Syafii tentang ilmu kalam
1. Imam Ahmad berkata:
“Dulu Imam Asy-Syafii jika telah dipastikan di sisinya ada satu khobar (hadits), beliau mengikutinya. Dan sebaik-baik sifat Imam Syafii adalah tidak menginginkan ilmu kalam. Beliau hanya antusias dengan ilmu fiqih.”
2. Imam Ahmad meriwayatkan tentang Imam Asy-Syafii:
3. Ar-Robi’ berkata: Aku mendengar Imam Asy-Syafii berkata:
لَأَنْ يَبْتَلِيَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْعَبْدَ بِكُلِّ ذَنْبٍ مَا خَلَا الشِّرْكَ بِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ الْأَهْوَاءِ .
“Kalau Allah menguji seorang hamba dengan semua dosa selain menyekutukan-Nya, itu lebih baik baginya daripada al-ahwa (bid’ah, ilmu kalam).”
4. Ibnu ‘Abdil Hakam berkata Imam Asy-Syafii:
لَوْ عَلِمَ النَّاسُ مَا فِي الْأَهْوَاءِ مِنْ الْكَلَامِ لَفَرُّوا مِنْهُ كَمَا يَفِرُّونَ مِنْ الْأَسَدِ .
“Kalau seorang mengetahui apa yang ada pada al-ahwa (bid’ah) dari ilmu kalam, sungguh mereka akan lari darinya sebagaimana lari dari singa.”
5. Imam Asy-Syafii juga berkata:
مَا أَحَدٌ ارْتَدَى بِالْكَلَامِ فَأَفْلَحَ ،
“Tidak ada seorang pun jatuh dalam ilmu kalam, kemudian dia bisa beruntung.”
6. Al-Muzani bertanya kepada Imam Asy-Syafii tentang satu masalah dari ilmu kalam. Kemudian beliau balik bertanya: “Sedang dimana engkau?” Al-Muzani menjawab: “Di Masjid Jami di Fusthoth.” Kemudian Imam Ay-Syafii berkata: “Engkau sedang berada di Taron.” Taron adalah satu tempat di Laut Al-Qulzum, dimana hanpir tidak ada satu perahu yang selamat di sana. Kemudian Imam Asy-Syafii memberikan satu masalah fiqih kepadanya. Kemudian dia menjawabnya. Kemudian beliau memasukkan kepada Al-Muzani sesuatu yang merusak jawabannya. Kemudian Al-Muzani menjawab dengan selain itu. Kemudian beliau memasukkan sesuatu yang merusak jawabanku. Setiap kali Al-Muzani menjawab, beliau mendatangkan sesuatu yang merusak jawaban itu. Kemudian Imam Asy-Syafii berkata:
Kemudian Al-Muzani meninggalkan ilmu kalam dan menghadap kepada ilmu fiqih.
7. Imam Asy-Syafii berkata:
لَوْ أَنَّ رَجُلًا أَوْصَى بِكُتُبِهِ مِنْ الْعِلْمِ لِآخَرَ ، وَكَانَ فِيهَا كُتُبُ الْكَلَامِ لَمْ تَدْخُلْ فِي الْوَصِيَّةِ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ الْعِلْمِ .
“Kalau seseorang berwasiat dengan kitab-kitabnya kepada orang lain, dan di dalamnya ada kitab-kitab ilmu kalam, maka kitab-kitab ilmu kalam itu tidak termasuk dalam wasiat, karena itu bukanlah ilmu (yang bermanfaat.”
Nuh Al-Jami’ berkata: Aku bertanya kepada Abu Hanifah tentang ilmu kalam seperti al-a’radh dan al-ajsam yang diadakan oleh orang-orang, maka dia menjawab:
مَقَالَاتُ الْفَلَاسِفَةِ ، عَلَيْكَ بِطَرِيقِ السَّلَفِ وَإِيَّاكَ وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ .
“Perkataan-perkataan filsafat, wajib engkau menempuh jalan salaf, dan hati-hati engkau dari setiap perkara yang baru.”
III. Perkataan Imam Ahmad rahimahullah (salah seorang murid Imam Asy-Syafii)
1. Imam Ahmad rahimahullah berkata:
لاَ يُفْلِحُ صَاحِبُ كَلاَمٍ أَبَدًا
“Ahli kalam tidak akan beruntung selama-lamanya.”
2. Imam Ahmad rahimahullah juga telah melarang melihat dan membaca kitab-kitab ahli kalam dan ahli bid’ah yang menyesatkan.
Beliau berkata dalam riwayat Al-Marrudzi:
لَسْت بِصَاحِبِ كَلَامٍ، فَلَا أَرَى الْكَلَام فِي شَيْء إلَّا مَا كَانَ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَوْ حَدِيثٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَوْ عَنْ التَّابِعِينَ، فَأَمَّا غَيْر ذَلِكَ فَالْكَلَام فِيهِ غَيْرُ مَحْمُود
“Bukanlah aku termasuk ahli kalam. Aku tidak memandang ilmu kalam sedikitpun melainkan apa yang ada di dalam Al-Qur’an, atau hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shohabatnya rodhiyallahu ‘anhum atau dari tabiin. Adapun yang selain dari itu maka berbicara tentangnya tidak terpuji.” (Diriwayatkan oleh Al-Khollal)
3. Beliau berkata kepada seseorang dalam riwayat Ahmad bin Ash-rom:
إيَّاكَ وَمُجَالَسَةَ أَصْحَاب الْخُصُومَاتِ وَالْكَلَامِ
“Hati-hatilah dari duduk-duduk dengan orang yang suka berdebat dan dengan ahli kalam.” (Diriwayatkan Abu Nashr As-Sajzi)
4. Dalam riwayat Ahmad bin Ashrom: Imam Ahmad rahimahullah juga berkata kepada seseorang:
لَا يَنْبَغِي الْجِدَالُ، اتَّقِ اللَّهَ، وَلَا يَنْبَغِي أَنْ تُنَصِّبَ نَفْسَكَ، وَتَشْتَهِر بِالْكَلَامِ، لَوْ كَانَ هَذَا خَيْرًا لَتَقَدَّمَنَا فِيهِ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إنْ جَاءَك مُسْتَرْشِد فَأَرْشِدْهُ .
“Tidak sepantasnya untuk berjidal (debat kusir), bertakwalah kepada Allah. Tidak sepantasnya engkau mendudukan dirimu dan engkau terkenal dengan ilmu kalam. Kalau hal ini baik, sungguh kita akan didahului oleh para shohabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah itu. Namun jika datang seseorang meminta bimbingan kepadamu, maka berilah bimbingan.” (Diriwayatkan Abu Nashr As-Sajzi)
5. Beliau berkata dalam satu riwayat Hanbal:
عَلَيْكُمْ بِالسُّنَّةِ وَالْحَدِيث وَمَا يَنْفَعكُمْ ، وَإِيَّاكُمْ وَالْخَوْضَ وَالْمِرَاءَ فَإِنَّهُ لَا يُفْلِح مَنْ أَحَبَّ الْكَلَام
“Wajib kamu berpegang dengan sunnah, hadits dan yang memberi manfaat kepadamu. Dan hati-hatilah kamu dari berdebat, jidal, sesungguhnya tidak akan beruntung orang yang menyukai ilmu kalam.”
6. Beliau juga berkata:
لَا تُجَالِسْهُمْ وَلَا تُكَلِّمْ أَحَدًا مِنْهُمْ
“Jangan engkau duduk-duduk dengan ahli kalam, dan jangan kamu mengajak bicara kepada seorang pun dari mereka.”
7. Beliau juga menyebutkan ahli bid’ah dan berkata:
لَا أُحِبُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُجَالِسَهُمْ وَلَا يُخَالِطَهُمْ وَلَا يَأْنَسَ بِهِمْ، وَكُلُّ مَنْ أَحَبَّ الْكَلَام لَمْ يَكُنْ آخِرُ أَمْرِهِ إلَّا إلَى بِدْعَة لِأَنَّ الْكَلَام لَا يَدْعُو إلَى خَيْر، عَلَيْكُمْ بِالسُّنَنِ وَالْفِقْه الَّذِي تَنْتَفِعُونَ بِهِ وَدَعُوا الْجِدَالَ وَكَلَامَ أَهْلِ الْبِدَع وَالْمِرَاءِ ، أَدْرَكْنَا النَّاسَ وَمَا يَعْرِفُونَ هَذَا وَيُجَانِبُونَ أَهْلَ الْكَلَامِ
“Aku tidak suka seseorang untuk duduk-duduk dengan mereka dan bergaul dengan mereka, dan beramah-tamah dengan mereka. Setiap orang yang menyukai ilmu kalam, akhir urusannya tidak lain kecuali kepada bid’ah, karena ilmu kalam tidak mengajak kepada kebaikan. Wajib kalian memegang sunnah-sunnah dan fikih yang kalian bisa mendapat manfaat dengannya. Tinggalkan jidal, ucapan ahli bid’ah dan orang yang suka berdebat. Kita telah mendapati para pendahulu, mereka tidak mengenal hal ini dan menjauhi ahli kalam.”
8. Imam Ahmad berkata dalam risalahnya kepada Musaddad, dia berkata:
وَلَا تُشَاوِرْ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ فِي دِينِك، وَلَا تُرَافِقْهُ فِي سَفَرِك .
“Jangan engkau bermusyawarah dengan seorang pun dari ahli bid’ah dalam agamamu. Jangan temani dia dalam safar.”
9. Imam At-Tirmidzi berkata: Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata:
مَنْ تَعَاطَى الْكَلَامَ لَا يُفْلِحُ، وَمَنْ تَعَاطَى الْكَلَامَ لَمْ يَخْلُ مِنْ أَنْ يَتَجَهَّمَ .
“Orang yang mengambil ilmu kalam tidak akan beruntung. Dan barangsiapa mengambil ilmu kalam, tidak bisa lepas dari menjadi jahmiyah.”
SUMBER:FATWASYAFII.WORDPRESS.COM
PENDAPAT IMAM AHLUSSUNNAH TENTANG SUFI
1. Imam Malik (guru Imam Asy-Syafii) –rohimahumalloh-
Al-Qodhi ‘Iyadh rohimahulloh berkata dalam kitabnya Tartib Al-Madarik Wa Taqrib Al-Masalik 2/54: At-Tinisi berkata: Kami dulu berada di sisi Malik, dan para muridnya berada di sekelilingnya. Kemudian seorang dari penduduk Nashibiyin berkata: “Di tempat kami ada satu kaum yang disebut dengan sufiyah, dimana mereka makan banyak, kemudian mereka mulai membaca qasidah-qasidah [qashidah, qoshidah], kemudian bangkit dan menari.” Maka Imam Malik berkata: “Apakah mereka anak-anak?” Dia menjawab: “Tidak.” Imam Malik bertanya: “Apakah mereka orang-orang gila?” Dia menjawab: “Bahkan mereka adalah para tokoh agama yang berakal!” Maka Imam Malik berkata: “Aku tidak mendengar bahwa seorang muslim akan melakukan demikian.”
2. Imam Ahmad bin Hambal (murid Imam Asy-Syafii) –rohimahumalloh-
Beliau memperingatkan dari berteman dan duduk-duduk dengan mereka. Beliau pernah ditanya tentang nasyid-nasyid dan qasidah-qasidah –yang disebut sima’- yang dilakukan Sufiyah. Maka beliau mengatakan: “Itu perkara yang diada-adakan dalam agama (tidak ada landasannya dalam agama Islam).” Kemudian ditanyakan kepada beliau: “Apakah boleh kami duduk-duduk dengan mereka?” Beliau menjawab: “Tidak.”
Dan Imam Ahmad juga berkata tentang Al-Harits Al-Muhasibi –seorang imam tasawuf-. Maka beliau berkata kepada murid-muridnya: “Aku tidak mendengar tentang hakekat-hakekat seperti perkataan orang ini. Dan aku tidak berpadangan engkau boleh duduk-duduk dengannya.” (Tahdzibut Tahdzib 1/327)
3. Abu Zur’ah Ar-Rozi -rohimahulloh-
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata dalam At-Tahdzib: Al-Bardza’i berkata: Abu Zur’ah ditanya tentang Al-Muhasibi dan kitab-kitabnya, maka dia menjawab: “Hati-hati kamu dari kitab-kitab ini, (yang berisi) bid’ah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan. Dan wajib kamu berpegang teguh dengan al-atsar (hadits, sunnah, petunjuk Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam), sesungguhnya engkau akan mendapati dalam atsar yang mencukupimu dari kitab-kitab ini.”
Kemudian ada yang bertanya kepadanya: “Di dalam kitab-kitab ini ada pelajaran?”
Dia menjawab: “Barangsiapa yang tidak mendapat pelajaran dalam Kitabulloh, maka dia tidak akan mendapat pelajaran dalam buku-buku ini. Apakah telah ada kabar sampai kepada kalian bahwa Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, atau Al-Auza’i atau para imam lainnya menulis kitab-kitan tentang lintasan-lintasan hati dan was-was (bisikan-bisikannya) serta perkara-perkara ini? Kaum sufiyah ini telah menyelisihi para ulama. Kadang mereka membawa Al-Muhasibi kepada kita, kadang membawa Abdurrohim Ad-Daili, dan kadang membawa Hatim Al-Ashom… Betapa cepatnya manusia berlari menuju para ahli bid’ah ini.”
Orang-orang sufi itu berpaling dari syariat Islam, karena mereka bodoh tentang syariat dan suka mengada-adakan perkara agama dengan pendapat ro’yu (akal) mereka. Mereka senang dengan ghuluw (sikap berlebih-lebihan) dalam beragama dan beribadah.
Begitulah kebanyakan orang yang mengaku bermadzhab syafii, tidak mengambil pendapat/perkataan Imam Asy-Syafii kecuali yang mencocoki hawa nafsu mereka dalam masalah fiqih dan ibadah. Sedangkan dalam masalah aqidah dan manhaj tidak menempuh jalan yang ditempuh beliau. Padahal masalah aqidah dan tauhid itulah dasar agama.
SUMBER:FATWASYAFII.WORDPRESS.COM
Sabtu, 07 Agustus 2010
Imam Suyuthi & ilmu kalam manthiq
SUMBER:FATWASYAFII.WORDPRESS..COM