Kita telah saksikan bersama bahwa Polri bersama Densus 88 la’natullah ’alaih telah menangkap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dengan cara-cara yang biadab. Beliau ditangkap dengan dugaan bahwa beliau terlibat, secara langsung maupun tidak langsung, dalam latihan militer di Aceh. Oleh karena itulah beliau dijerat dengan pasal terorisme. Lagi-lagi... isu yang diangkat adalah terorisme. Adakah Undang-Undang yang mengatur tentang pelatihan militer? Apakah pelatihan militer disebut sebagai terorisme? Saat Polri dirundung masalah internal yang kacau balau, rekening gendut di tubuhnya, berbagai macam kasus korupsi, kasus Century tak tak kunjung usai, dan berderet-deret kasus besar lainnya, lag-lagi... isu terorisme-lah yang diangkat sebagai ”penyelamat” mereka. Sebenarnya, rakyat sudah bosan dengan semua kedustaan Polri bersama pemerintah. Rakyat sudah mulai paham dengan semua permainan pemerintah republik ini. Rakyat sudah mulai paham dengan isu-isu terorisasi umat Islam yang dilakukan oleh Polri dan pemerintah di bawah hegemoni Amerika ini. Sepertinya, seakan-akan, yang dilakukan umat Islam untuk menegakkan agamanya adalah suatu kejahatan terbesar bernama terorisme. Apa-apa yang terjadi di Afghanistan menjadi bukti. Saat rakyat Afghanistan telah damai dengan syariat Islam yang telah tegak di negaranya sendiri, saat itulah Amerika menjajah dengan dalih memerangi terorisme. Apa-apa yang terjadi di Palestina, Iraq, Somalia, Maroko, Chechnya, Bosnia, Sudan, Nigeria, Philipina, bahkan di republik ini... berdalih memerangi terorisme, dilancarkanlah pembantaian terhadap umat Islam. Pertanyaan terbesar yang tidak boleh tidak (alias ”harus”) dijawab adalah: Apa definisi ”terorisme” itu sendiri? Dalam Undang-Undang Barat maupun Undang-Undang yang dipaksakan untuk diterapkan di berbagai negeri-negeri umat Islam, bahkan... ”terorisme” itu tidak ada definisinya yang jelas. Kalaupun ada, maka definisi itu masih saja samar. Kita selayaknyalah melihat realita yang ada. Kalau definisi terorisme itu adalah pembunuhan, maka jawablah... Siapa yang paling banyak membunuh? Berapa banyak anak-anak, wanita, orang tua, masyarakat sipil yang telah dibunuh oleh Amerika dan sekutunya termasuk Israel? Di Afghanistan, di Palestina, di Iraq, di Somalia, di Maroko, di Chechnya, di Bosnia, di Sudan, di Nigeria, di Philipina, dan di negeri-negeri kaum muslimin lainnya. Itu semua belum termasuk aktivis-aktivis dakwah Islam yang mereka bantai secara kejam baik secara rahasia maupun terang-terangan di depan media. Itulah Amerika dan sekutunya. Mengapa Amerika dan sekutunya tidak disebut sebagai teroris? KALAU USAHA UNTUK MENDIRIKAN SUATU NEGARA ITU DISEBUT SEBAGAI TERORISME, MAKA JAWABLAH... MENGAPA RMS (REPUBLIK MALUKU SELATAN -atau SERANI-) ITU TIDAK DISEBUT SEBAGAI TERORIS? Padahal mereka dengan sangat jelas di depan mata SBY beraksi dengan mengibarkan bendera mereka. Mengapa mereka tidak disebut teroris? KALAU TERORISME ITU ADALAH PENGEBOMAN, MAKA JAWABLAH... SIAPA YANG PALING BANYAK MENGGUNAKAN BOM UNTUK MEMBANTAI MANUSIA DI BERBAGAI BELAHAN DUNIA? Siapa yang menggunakan bom fosfor di Palestina untuk membantai rakyat? Padahal tanah itu adalah tanah rakyat Palestina sendiri. Siapa yang menggunakan bom Uranium di Afghanistan untuk menghancurkan rakyat sipil dan para pejuang? Apa urusan Amerika di Afghanistan selain untuk menghancurkan Islam? Siapa yang secara keji menggunakan bom Cluster di Iraq? Sehingga banyak bayi yang lahir cacat, wanita-wanita dan anak-anaknya meninggal. Siapa? Amerika dan sekutunya telah melakukan itu semua tapi mengapa kalian tidak menyebut mereka sebagai teroris?
Kamis, 07 Oktober 2010
TERORISME,,,APA ITU??????
Rabu, 15 September 2010
Apa Kata Syaikh Abdullah Azzam (rahimahullah) Tentang Usamah Bin Laden?
“Kita memohon kepada Allah ta’ala agar menjaga saudara kita, Abu Abdullah Usamah Bin Ladin; lelaki inilah, kedua mataku tak pernah melihat lelaki semisal ini di seluruh dunia”
“Lelaki ini melambangkan seluruh negara”
“Demi Allah, aku bersumpah aku takkan pernah mampu menemukan seorang yang setara dengannya di seluruh dunia islam, jadi kita memohon kepada Allah untuk menjaga agamanya dan hartanya, dan agar memberkahi kehidupannya”
“Dia hidup di rumahnya dengan kehidupan orang yang melarat. Dulu aku terbiasa mengunjungi rumahnya di Jeddah disaat aku pergi untuk haji atau umroh, dan aku tidak pernah menemukan sebuah meja atau sebuah kursi dalam rumahnya: seluruh rumahnya. Dia menikahi empat istri dan di seluruh rumahnya aku tak pernah melihat sebuah meja maupun kursi. Rumah pekerja Yordania atau Mesir bahkan lebih baik dibanding dengan rumah Usamah. Pada saat yang sama, jika kamu meminta kepadanya jutaan riyal untuk Mujahidin, dia akan menuliskan sebuah cek jutaan reyal untukmu”
“Orang-orang Afganistan melihat orang arab layaknya seorang lelaki yang meninggalkan perniagaannya, pekerjaannya dan perusahaannya di Saudi Arabia, atau di teluk Yordania, dan hidup dengan kehidupan roti dan teh basi di puncak-puncak pegunungan. Dan mereka akan melihat Usamah Bin Ladin layaknya seorang lelaki yang telah meninggalkan bisnisnya yang sukses dalam merenovasi masjidil harom milik rosulullah SAW di Madinah untuk saudara-saudaranya hingga ia pun kehilangan bagiannya - 2.5 juta dolar - lalu melemparkan dirinya ke tengah-tengah pertempuran”
“Usamah mendatangi salah satu saudara perempuannya dan menyodorkan fatwa Syekh Ibnu Taimiyyah tentang kewajiban untuk pergi berjihad, kemudian dengan segera saudara perempuannya mengambil buku ceknya dan memberinya sebuah cek yang bernilai 8 juta riyal (2.5 juta dolar). Orang-orang berkata kepadanya : “Apa kamu sudah gila? 8 juta riyal dalam sekali sumbangan?”. Banyak dari kaum muslimah yang berusaha merayunya untuk tidak melakukannya; dan banyak kaum muslimin yang berusaha mengecilkan hati suami saudara perempuan Usamah dan mereka berkata kepada saudara perempuannya ini : “Kamu hidup dalam rumah sewaan: untuk membangun sebuah rumah untukmu hanya membutuhkan biaya satu juta riyal (275 ribu dolar), lalu kenapa Kamu tidak menggunakan satu juta riyal dari sumbanganmu untuk membangun rumah sendiri? Setelah itu, dia pergi menuju saudara laki-lakinya, Usamah, dan berkonsultasi dengannya tentang satu juta riyal untuk membangun sebuah rumah baginya. Lalu Usamah pun berkata : “Demi Allah, bahkan tidak satu riyal pun! Kamu hidup dalam sebuah rumah yang luas ketika orang-orang meregang nyawa, bahkan tak mampu untuk menemukan sebuah tenda untuk bertempat tinggal”.
“Ketika dia duduk denganmu, kamu akan merasakan bahwa dia adalah seorang pembantu diantara para pembantu rumah, dengan sopan santun dan kedewasaannya. Demi Allah, kami melihatnya seperti itu. Saya pernah berkata kepada Syekh Sayyaf sekali, “Jagalah lelaki ini agar selalu bersamamu dan laranglah dia untuk memasuki peperangan”. Mengingat dia, di lain sisi, selalu nekat untuk pergi dan menghadapi musuh secara langsung”.
“Percayalah kepadaku, kapanpun dia datang ke rumahku di Peshawar dan Aku perlu untuk melakukan telpon, dia akan pergi dan mengambilkan telpon untukku dan menaruhnya di depanku, agar aku tidak beralih dari posisiku. Sopan santun, kesederhanaan, kedewasaan : semoga Allah menjaganya”.
“Petama kali dia mengundangku untuk datang ke rumahnya adalah di bulan Romadhon. Pada saat maghrib, dia membawa sebuah piring yang dipenuhi nasi dengan sedikit tulang dalam lapisan daging, dan dua atau tiga kebab”.
“Sayyid Dhiya’, (seorang komandan Afganistan di Aliansi Utara, kemenakan Sayyaf dan salah seorang yang memerangi Mujahidin pada saat perang salib di Afganistan yang bermula tahun 2001), memberitahu kepada seorang jurnalis koran Prancis, Le Monde, “Kami tahu Usamah adalah seorang yang kaya, tapi Dia terbiasa hidup diantara kami dalam kehidupan yang sederhana dan tidak berkecukupan. Dia dikepung oleh orang-orang Rusia dalam dua peristiwa : satu diantara dua peristiwa itu terjadi dalam peperangan yang berakhir selama 24 hari, dan inilah peperangan paling lama yang pernah aku ikuti dalam seluruh hidupku. Usamah dikepung selama 7 hari, di puncak gunung, dia bersama dengan 100 pasukannya. Mereka digempur dengan senjata berat secara terus menerus dari arah tentara Rusia, maka Usamah memberi perintah untuk mencegat jalan darat yang terbuka untuk memotong rute suply pasukan Rusia, dan kemudian menyerang pasukan Rusia pada hari ke-7, dan menjadi pemenang dalam pertempuran itu. Usamah dan orang-orang Arab sangat berani, sungguh - dan semenjak pertempuran itu Aku tak pernah melihat sebuah pertempuran yang seganas pertempuran saat itu. Jujur saja, kami saat itu sangat ketakutan dengan serangan yang terus menerus ditujukan kepada kami, dan kami terus menanti di dalam parit perlindungan kami agar pasukan Rusia mendekati kami sehingga kami bisa menembak mereka. Orang-orang Arab, di satu sisi, pada saat pertempuran tersebut, mereka melompat dari parit perlindungan dan menghadapi musuh secara langsung: mereka sangat bersemangat untuk memerangi musuh tangan ke tangan, sedangkan tak seorang Afgan pun yang disiapkan untuk melakukan hal itu”.
Diambil dan ditranlsate dari ebook “The Lofty Mountain” karangan Syekh Asy Syahid biidznillah Abdullah Azzam, diterbitkan Azzam Publications (http://www.azzam.com), halaman 151-153, edisi pertama, dalam format pdf.
Selasa, 14 September 2010
Alumni Afghan, Fakta dan Opini

Oleh: Fauzan Al-Anshari
Judul di atas mungkin terasa agak aneh, mengingat istilah “alumni” lazimnya dinisbatkan kepada mereka yang telah lulus dari jenjang pendidikan tertentu. Sedangkan kata 'Afghan' menunjukan nama sebuah negara yang lengkapnya bernama Afghanistan --sebuah negara Islam yang telah diserang dengan carpet-bombing oleh tentara koalisi pimpinan AS, Oktober dua tahun silam. Oleh karena itu, istilah “Alumni Afghan” perlu saya jelaskan terlebih dahulu secara singkat sebagai berikut.
Mereka adalah para aktivis muslim dari berbagai elemen gerakan Islam di Indonesia yang dengan inisiatif sendiri maupun kolektif turut membantu perjuangan muslim Afghanistan ketika mengusir penjajah tentara Uni Soviet antara 1980-1990.
Mereka masuk wilayah perbatasan Afghan-Pakistan, tepatnya di Peshawar dari berbagai jalur darat-laut-udara. Sebelum mereka terjun ke medan tempur (jihad) terlebih dahulu mereka mengikuti pelatihan militer di berbagai kamp pelatihan dalam berbagai paket diklat. Sebagian langsung menjadi mahasiswa Universitas Jihad pimpinan Asy-Syahid Abdullah Azzam, selebihnya mengikuti pelatihan singkat antara 3-6 bulan.
Setelah jihad Afghan usai dengan kemenangan telak berada di tangan mujahidin -- yang diikuti dengan hancurnya negara Uni Sovyet -- para aktivis muslim yang pernah belajar di Afghan tersebut kembali ke tanah air. Mereka itulah kemudian dikenal dengan sebutan 'alumni Afghan' atau 'veteran afghan'. hanya saja jangan dibayangkan, kemudian mereka membentuk apa yang disebut 'ikatan alumni' atau apa pun namanya. Mereka kembali ke tanah air menjadi warga negara biasa, normal dan ikut aktif dalam mengembangkan dakwah Islam di masyarakat. Bahkan, mereka yang dulunya bekerja di sebuah instansi atau perusahaan, juga kembali aktif seperti semula.
Tragedi Pembantaian Muslim
Namun, kondisi politik domestik berubah drastis ketika terjadi tragedi Kupang (30/11/1998), di mana umat Islam dan fasilitas yang mereka miliki tiba-tiba diserang oleh gerombolan Kristen. Belum lagi selesai kasus Kupang, tiba-tiba serangan terhadap umat Islam kembali dilakukan oleh 'Onet' yaitu tragedi Idul Fitri berdarah di Ambon (19/1/1999). Bahkan dalam sehari saja, ibu-ibu, anak-anak, dan orang tua di dalam Masjid Al-Muhajirin di Galela, Halmahera, dibantai secara keji. Kejinya pembantaian itu hanya bisa disaingi oleh kebiadaban PM Israel Ariel Sharon yang pernah membantai para pengungsi muslim Palestina yang juga terdiri dari orang tua, wanita, dan anak-anak di Sabra dan Shatila (1983).
Kisah pembantaian terhadap umat Islam oleh “tentara merah” tersebut nyatanya tak kunjung henti. Sekitar pertengahan Juni-Juli 2000 para santri pesantren Walisongo di Poso, Sulawesi Tengah, giliran menjadi korban pembantaian yang mengerikan. Tidak pernah terjadi pemandangan yang mengenaskan seperti ketika puluhan mayat santri tersebut terapung-apung di sungai, darah berceceran di pesantren Walisongo. Dari serangkaian pembantaian terhadap umat Islam tersebut, muncullah pertanyaan sederhanan: apa kesalahan mereka (umat Islam) sehingga mereka harus dibantai?.
Kenyataan inilah yang kemudian membangkitkan perlawanan dari para “alumni Afghan” untuk membantu saudaranya seiman dari ancaman pembantaian berikutnya. Pertanyaan sederhana pun muncul: apa salahnya para “alumni Afghan” itu ikut membantu saudaranya di Ambon dan Poso dari bahaya pembunuhan, pengusiran, dan penangkapan oleh musuh-musuh Islam, sebagaimana mereka dulu pernah membantu saudaranya seiman di Afghanistan yang ternyata membawa kemenangan?. Sementara itu harus diakui aparat TNI-Polri sendiri ketika itu, tak sanggup melindungi umat Islam dari pembantaian tersebut. Percaya atau tidak, peran para alumni tersebut telah banyak menolong eksistensi umat Islam di wilayah tersebut dari politik etnic-cleansing yang diterapkan secara sistematis.
Masalahnya sekarang adalah muncul opini sesat (disinformasi) yang semakin kuat menyusul berbagai tragedi bom di tanah air pasca-runtuhnya gedung kembar WTC (11/9/2001) yang dikaitkan dengan para aktivis muslim yang dulu pernah 'nyantri' di Afghan. Kini, tak kurang dari dua puluh lima 'alumni' yang ditahan aparat kepolisian dengan berbagai tuduhan yang mirip dan bermuara pada UU Antiteroris nomor 15 tahun 2003. Sebagian mereka telah dilepas, tetapi sebagian lain justru ditangkap kemudian. Modus penangkapannya hampir sama, yaitu “dijemput” di suatu tempat tanpa surat penangkapan dan penahanan lalu diangkut ke suatu tempat.
Di tempat tersebut berbagai penyiksaan fisik mereka alami. Setelah itu mereka berpindah tempat dengan siksaan yang berbeda, yakni dengan bujukan uang sebagai imbalan atas pengakuan yang dipaksakan. Anda jangan membayangkan mereka bisa didampingi oleh pengacara selama penyelidikan berlangsung atau dijenguk anggota keluarga. Tim polisi antiterori itu menggunakan UU tersebut sebagai payung hukum yang menghalalkan segala cara, asalkan tujuan mereka tercapai, yaitu menjerat mereka dengan tuduhan terlibat aksi terorisme. Setelah tujuh hari ditahan, sebagian mereka terpaksa dilepas lagi, karena memang tidak ada bukti bahwa melakukan apa yang disangkakan. Mereka pun kembali ke rumahnya tanpa kompensasi apa pun. Sementara istri, anak, dan keluarganya yang telah menderita selama itu hanya mampu mengurut dada atas kezaliman yang mendera mereka.
Perlakuan aparat inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan: apa salah mereka terhadap bangsa ini?. Mereka mencintai bangsa ini. Mereka makan dari tumbuhan yang tumbuh di negeri ini. Mereka minum dari air yang mengalir di negeri ini. Mereka mencintai negeri ini. Mereka bukan teroris! Memang, sebagai muslim, mereka melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Tidak lebih dari itu!
Sementara itu, di depan mata kepala kita, banyak konglomerat hitam yang telah merampok uang rakyat ratusan triliun rupiah sehingga memporakporandakan perekonomian nasional kita justru mendapat SP3, release and discharge, bahkan sebagian lagi lolos tanpa bekas. Para 'aktivis' crime lord itu justru diperlakukan bagai raja, disambut dan dicium bagai idola. Pada saat yang bersamaan seorang ulama sepuh, Ustad Abubakar Ba'asyir (65) justru diperlakukan bagai penjahat kelas kakap. Beliau diambil paksa dari pembaringannya di RS PKU Muhammadiyah Solo (28/10/2002), dua pekan pasca-bom Bali. Bahkan ketika beliau ingin kencing pun dilarang ke toilet, beliau dipaksa kencing di dalam sebuah botol bekas kemasan air minum.
Rezim negeri ini telah mengulangi kesalahan yang sama dengan pendahulunya (Orla-Orba). Para pemimpinnya berlaku zalim kepada umat Islam dan ulama. Partai-partai hanya berpikir bagaimana bisa berkuasa pada 2004. Para anggota parlemen lebih banyak bernegosiasi untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Mereka melupakan sekelompok kecil yang benar-benar mencintai negeri ini dari berbagai intervensi musuh (baca: rezim Amerika dan sekutunya). Namun kini mereka justru diopinikan sebagai teroris. Padahal, kalau sampai negeri ini diserang AS, merekalah yang akan membela negeri ini sampai titik darah penghabisan, tanpa mengenal kompromi melawan penjajah tersebut! Adakah orang atau kelompok yang mau peduli terhadap nasib puluhan “alumni Afghan” tersebut?.
SUMBER:RISALAHJIHAD.BLOGSPOT.COM
Senin, 23 Agustus 2010
PERBEDAAN OBAMA DAN MALCOLM X DI MATA AL QAEDA
International Jihad Analysis - Apa perbedaan antara Barack Obama dengan Malcom X ? Apa pula persamaannya ? Apa pentingnya perbedaan dan persamaan mereka untuk kaum Muslimin? Bagaimana pendapat Hakimul Ummat, Syekh Aiman Az Zawahiri tentang mereka berdua ?
Bush Pergi, Obama Datang
Dalam sebuah video yang baru-baru ini dirilis oleh As Sahab Media, sayap media Al Qaida, Hakimul Ummah Syekh Aiman Az Zawahiri secara menarik membandingkan antara presiden terpilih Amerika yang ke-44, Barack Husein Obama dengan Malcom X. Video bertajuk Dzahaba Bush wa Majiy Obama atau berarti Telah pergi Bush maka Datang Obama, secara jelas dan terang-terangan dibandingkan dua karakter yang berbeda, namun memiliki beberapa persamaan tersebut. Tampilan video itu sendiri sudah mencerminkan ‘beda’ antara kedua orang tersebut. Tampilan video menunjukkan Malcom X berada di sisi sebelam kanan, sedang duduk diantara dua sujud, berpakaian rapi, khusyuk di dalam sebuah masjid. Teks di bawahnya tertulis (dengan bahasa Arab) Malcom X rahimahullah.
Sementara itu, di sisi sebelah kiri, nampak Barack Husein Obama, mengenakan topi khas Yahudi, skulakap dan ditemani beberapa Rabi Yahudi, juga sedang berdoa khusyuk di tembok ratapan, Israel. Teks dibawahnya tertulis, juga dengan bahasa Arab, Barack Husein Obama.
Sementara di tengah-tengah keduanya, Syekh Aiman Az Zawahiri, Hakimul Ummat, orang kedua di Al Qaida, berlatar belakang kitab-kitab berbahasa Arab, menyampaikan pesan suaranya kepada seluruh umat muslim berkenaan dengan terpilihnya Barack Husein Obama sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat.
Pada pesan pertamanya Syekh Aiman menyatakan selamat kepada umat muslim dikarenakan kekalahan pasukan Amerika di Iraq yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Syekh Aiman juga menyindir Bush dan administrasinya yang semakin semrawut di Iraq.
Kekalahan pasukan Amerika di negeri dua sungai tersebut baru disadari Bush di akhir masa jabatannya. Entah ingin mencari muka atau karena takut diadili oleh masyarakatnya sendiri, Bush menyatakan penyesalannya atas laporan intelejennya yang keliru soal senjata pemusnah massal. Ini pun bisa jadi hanya taktik Bush agar dia tidak kehilangan muka menghadapi kekalahan pasukan Amerika melawan mujahidin Iraq. Dalam wawancara dengan televisi ABC tersebut, Bush juga menyesali krisis finansial global yang telah menyebabkan hilangnya banyak lapangan pekerjaan dan menyusutnya dana pensiun.
Di Iraq, pasukan kafir Amerika memang mengalami kekalahan demi kekalahan yang fatal ketika melawan pasukan mujahidin, terutama yang diorganisir oleh Daulah Islamiyyah Iraq di bawah pimpinan Amirul Mu’minin, Abu Umar Al Baghdady. Lebih dari 4.200 pasukan kafir Amerika meregang maut di Iraq sejak perang dimulai tahun 2003. Di bumi kaum muslimin lainnya, Afghanistan, pasukan kafir Amerika juga ditempatkan sebanyak 34.000 pasukan. Pasukan kafir ini akan berhadapan dengan mujahidin Afganistan di bawah komando Amirul Mu’minin, Mullah Umar Muhammad. Kebijakan memerangi kaum muslimin inilah yang akhirnya disesali oleh Bush, di akhir masa jabatannya. Lalu bagaimana dengan sikap dan kebijakan presiden terpilih yang baru, Barack Obama ?
Pesan kedua Syekh Aiman Az Zawahiri dalam video tersebut memang ditujukan kepada Barack Obama sebagai presiden terpilih Amerika yang ke-44. Syekh Aiman memperingatkan Obama dengan tegas bahwa jika ia keras kepala tentang kegagalan Amerika di Afghanistan, maka ingatlah nasib Bush, Presiden Pakistan terdahulu, Pervez Musharraf, dan nasib Soviet dan Inggris sebelumnya,”
Hal ini disampaikan oleh Syekh Aiman mengingat Barack Obama berencana mengirimkan pasukan yang lebih banyak lagi ke Afghanistan dan berjanji melanjutkan serangan-serangan kepada mujahidin di Afghanistan. Syekh Aiman dalam video tersebut menyatakan : “Apa yang telah Anda umumkan….bahwa Anda akan menarik pasukan AS dari Irak dan akan mengirimkannya ke Afghanistan, adalah sebuah kebijakan yang telah terlihat kegagalannya,”
Dalam suatu wawancara, Obama mengulangi lagi janji dalam kampanyenya bahwa ia akan menarik ke luar seluruh pasukan AS dari Irak dan akan memindahkan fokus militer AS ke Afghanistan. Sikap dan tindakan Barack Obama ini jelas merupakan konsistensi dan eksistensi Perang Salib yang dilakukan oleh Amerika yang kali ini berada di bawah komando Barack Obama.
Beda Barack Obama dan Malcom X
Video kemudian menampilkan kunjungan Barack Obama ke Tembok Ratapan, Israel, Rabu (23/7). Dalam kunjungannya ke Israel tersebut, Obama berjanji akan mendukung dan menjamin keamanan negara zionis tersebut. Bahkan ia juga mengenakan kopiah khas Yahudi, skulacap sambil meletakkan karangan bunga putih di museum peringatan Yad Vashes Holocaust. Barack Obama juga terlihat ditemani beberapa Rabi Yahudi, yang dengan serius menunjukkan sebuah buku kepada Obama. Syekh Aiman pun mulai mengomentari dan membandingkan kemunafikan Obama dengan Ketulusan Malcom X.
Syekh Aiman mengatakan pesan kepada Obama : “Anda terlahir dengan orang tua Muslim, akan tetapi anda memilih untuk berada di barisan musuh-musuh kaum Muslimin, dan beribadah mengikuti ibadahnya orang-orang Yahudi, meski pun anda mengklaim seorang Nasrani hanya untuk mencapai pucuk kepemimpinan di Amerika Serikat. Lalu anda menjanjikan kembali kepada Israel, anda juga berjanji akan menyerang wilayah-wilayah di Pakistan, yang dengan demikian anda akan melanjutkan kembali Perang Salib di bawah komando Amerika. Dan seminggu yang lalu pesawat udara anda telah membunuh 40 Muslim Afghan yang tidak berdosa dalam sebuah pesta pernikahan di wilayah Kandahar.”
Sebagaimana telah diketahui masyarakat awam, Barack Obama yang lahir di Hawai, 4 Agustus 1961 ini memiliki orang tua negro muslim, yakni ayahnya, Husein, yang menjadi nama tengahnya. Selain itu, ayah tiri Obama pun adalah seorang muslim, meskipun bukan muslim yang taat bahkan tidak menganggap agama sebagai hal serius. Namun dari hal inilah, banyak kaum muslimin tertipu dan menganggap Barack Obama juga seorang muslim dan mendukungnya. Padahal dia adalah penganut Protestan yang taat dan aktif di gereja.
Demi untuk mencapai pucuk kepemimpinan di Amerika, Barack Obama pun mengumbar janji dan komitmen untuk mendukung habis-habisan yahudi zionis Israel dan berjanji pula untuk menghabisi mujahidin, terutama di Iraq dan Afghanistan. Ini memang harga tiket untuk masuk ke gedung putih.

“Saya memiliki komitmen yang jelas dan kuat atas keamanan Israel sekutu terkuat kita di wilayah itu dan satu-satunya wilayah itu negara dengan demokrasi yang mapan. Dan itu akan menjadi titik awal saya”, ungkap Obama sebagaimana dikutip oleh New York Sun Editorial.
Obama juga berjanji kepada Dewan Demokrasi Yahudi Nasional (The National Jewish Democratic Council-NJDC) pada Februari 2007 sebelum dia menjadi presiden AS. Berikut janjinya :
“Jika saya menjadi presiden Amerika, maka negara ini harus bahu membahu dengan Israel. Mereka yang telah bekerja dengan saya di Chicago pada Dewan dan sekarang ada di Senat AS akan menyaksikan bahwa saya bukan Cuma omong besar. Saya akan melakukan apapun jika menyangkut keamanan Israel.”
“Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kepasitas apapun untuk tidak hanya menjamin keamanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu.” Demikian ungkapan hati Obama dalam sebuah acara yang disponsori oleh Kedutaan Besar Israel di Washington untuk menghormati hari jadi Israel yang ke-60.
Sikap Obama kepada kaum Muslimin juga sudah sangat jelas, sebagaimana ungkapannya kepada Hamas :
“Saya sudah mengatakan, mereka adalah organisasi teroris, yang tak boleh diajak negoisasi kecuali jika mereka mengakui Israel, meninggalkan kekerasan, dan kecuali mereka mau diam oleh perjanjian sebelumnya antara Palestina dan Israel.”
Dalam konferensi tahunan American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) yang merupakan tempat pertemuan tokoh politik dan bisnis pro Israel, Obama menegaskan dukungannya terhadap Israel, menempatkan Israel sebagai sekutu utama AS di Timur Tengah, seraya meminta AS meningkatkan bantuan militernya pada negara zionis tersebut. “Jerusalem harus tetap menjadi ibukota Israel dan harus tetap tak dibagi.”, ujarnya sebagai sebuah bentuk komitmen yang kokoh.
Pidato Barack Obama yang ‘menjilat’ pembesar-pembesar yahudi Israel ini bisa kita saksikan dalam layanan situs You Tube. Sepanjang pidato tersebut, beberapa kali Obama mendapatkan standing applaus sebagai rasa puas komunitas yahudi Israel akan komitmen Obama pada mereka. Barack Obama juga menjanjikan dana 30 Milliar dollar Amerika untuk keamanan Israel.

Keberpihakan Obama kepada zionis Israel semakin nampak sejak ia menjadi anggota senat di Washington pada 2002. Salah satu penyandang dana yang mendukungnya, Penny Pritzker, adalah pentolan zionis yang menguasai rantai hotel Hyatt di seluruh dunia. Sejak itu pula, ia menunjuk sejumlah penasehat yang dikenal pro Israel. Di senat ia kerapkali mendukung sejumlah keputusan yang menguntungkan Israel.
Kemudian Syekh Aiman Az Zawahiri membandingkan Barack Obama dengan Malcom X. Demikian ungkapannya :
“Adapun Malik al Shabazz rahimahullah (nama lain Malcom X sepulang beliau dari haji) terlahir dari orang tua negro yang juga seorang pastor bernama Louise Little dan kemudian dibunuh oleh orang kulit putih ekstrim. Tapi Allah SWT mengasihi beliau dengan memberikannya petunjuk kepada Islam. Beliau begitu membanggakan dirinya terutama dalam masalah persaudaraannya dengan sesama muslim. Beliau sangat mengutuk kejahatan Perang Salib yang dilancarkan Barat terhadap orang-orang yang lemah dan didzolimi. Lalu beliau mendukung masyarakat untuk mengadakan perlawanan terhadap penindasan Amerika. Malcom X juga berbicara tentang revolusi seluruh dunia melawan kemapanan kekuatan Barat.”
Kisah Malcom X sangat legendaris. Buku, bahkan film tentang beliau telah dipublikasikan. Bisa dikatakan Malcom X adalah hero bagi warga kulit hitam di Amerika umumnya, dan bagi kaum muslimin secara khusus. Malcom X bahkan dianggap tokoh yang menggelorakan jihad kaum negro melawan penindasan dan diskriminasi orang kulit putih Amerika. Padahal, sebelum mengenal Islam, kehidupan Malcom X penuh dengan derita dan sengsara.
Malcolm X lahir di Omaha/Nebraska, tanggal 19 Mei 1925. Sebenarnya nama aslinya adalah Malcolm Little. Karena dia lahir dari pasangan Earl dan Louise Little. Pada awal akhir tahun 1920-an, keluarga Little pindah ke Lansing, Michhigan. Ayahnya Pendeta Baptis bernama Earl Little yang juga aktivis Universal Negro Improvement Association (UNIA). Ibunya bernama Louise little. Malcolm punya 5 orang saudara seibu dan 3 saudara lain ibu.
Malcom X dilahirkan dalam keluarga yang berantakan dan setelah pindah ke Boston beliau terserat dalam lembah hitam hingga suatu saat tertangkap polisi dan ditahan selama 10 tahun. Kehidupan di penjara menjadi berkah bagi Malcolm remaja. Ini titik balik pertama dalam hidupnya. Atas dorongan teman satu selnya, Bimbi, Malcolm remaja belajar membaca dan menulis. Ia melalap buku-buku yang ada di perpustakaan penjara. Bahkan, ia ikut berbagai kursus korespondensi.
Pada tahun 1948, adiknya Reginald menyatakan bisa mengeluarkan Malcolm dari penjara dengan syarat ia berhenti merokok dan berhenti makan daging babi. Reginald berusaha mengislamkan Malcolm dan mengajaknya masuk ke dalam barisan Back Muslims atau The Nation of Islam yang didirikan oleh Elijah Muhammad.
Ajaran Elijah Muhammad menarik minat Malcolm yang mengaku dirinya atheis. Ia setuju masuk The Nation of Islam yang bertujuan memisahkan ras kulit hitam dari ras kulit putih. Bahkan, Malcolm percaya betul dengan ajaran Elijah bahwa orang kulit putih bertabiat jahat dan tidak bisa dipercaya. Sebagai tanda keanggotaan, ia memakai nama Malcolm X. X adalah simbol yang dipakai pengikut Black Muslims untuk menyatakan bahwa mereka adalah generasi yang hilang. Manusia yang tercerabut dari asal-usulnya akibat perdagangan manusia yang dilakukan oleh orang kulit putih. Mereka diculik dari Afrika, dibawa dan dijual di Amerika sebagai budak.
Setelah keluar dari The Nation of Islam, Malcolm X mendirikan organisasinya sendiri. Ia juga melakukan perjalanan haji ke Mekkah. Di Tanah Suci terbukalah cakrawala pikirannya. Ia baru tahu ajaran Islam yang sesungguhnya. Kebencian terhadap ras kulit putih adalah pemikiran yang keliru. Islam tidak membeda-bedakan warna kulit.
Sebagaimana Barack Obama, Malcom X juga seorang orator ulung. Setiap dia berbicara, orang takjub dan terdiam khusyuk mendengarkan pidato yang dibawakan secara berapi-api. Hanya saja, jika pidato Barack Obama mengajak kepada kekufuran dan mendukung zionis yahudi Israel, maka pidato Malcom X adalah semangat pembebasan dari perbudakan kulit putih Amerika menuju persamaan kedudukan dalam Islam.
Dalam video keluaran As Sahab ini diperlihatkan bagaimana Malcom X berpidato pada sebuah kesempatan. Mengenakan pakaian rapi, berkacamata, jenggot tipis, dengan artikulasi yang jelas dan penuh semangat, Malcom X menyampaikan aspirasinya tentang revolusi seluruh dunia melawan kediktaktoran Amerika.
Syekh Aiman kemudian mengatakan bahwa Barack Obama, Condoliza Rice, Collin Powel (semuanya warga negara Amerika keturunan Afrika, atau negro) adalah sama saja, hanya memanipulasi ras mereka untuk kepentingan kepemimpinan Amerika yang dzolim dan selalu memerangi umat Islam. Mereka sangat berbeda dengan Malcom X, yang juga negro, tetapi betul-betul memperjuangkan persamaan hak dan kewajiban mereka di atas dunia ini.
“Amerika perlu memahami Islam, karena Islam adalah agama yang menghapuskan masalah ras di kalangan pemeluknya. Dari seluruh perjalanan yang pernah saya lakukan ke dunia Islam, saya bertemu, bicara dan bahkan makan bersama dengan orang-orang yang di Amerika akan dianggap sebagai orang kulit putih-namun sikap sebagai orang kulit putih telah dihilangkan dari pikiran mereka oleh agama Islam.
“Orang Negro Amerika tidak bisa disalahkan atas rasa dendam rasial mereka-mereka hanya bereaksi atas rasisme yang dilakukan warga kulit putih Amerika secara sadar selama hampir empat ratus tahun. Tapi seiring dengan rasisme yang mengarahkan Amerika ke jalan bunuh diri, saya tetap yakin, di akademi-akademi dan universitas-universitas, akan terlihat tulisan-tulisan tangan di dinding-dinding dan banyak di antara mereka yang akan berubah ke jalan spiritual yang sebenarnya-satu-satunya jalan yang menjadikan Amerika untuk terhindar dari bencana akibat tindakan rasisme yang tidak bisa dihindari akan menimbulkan bencana itu.”
Syekh Aiman juga memperingatkan Barack Obama yang posisinya saat ini menjadi presiden Amerika, bahwa sesungguhnya Perang Salib yang saat ini tengah dilancarkan Amerika melawan Islam dan kaum Muslimin sebenarnya tidaklah dilakukan (sebagaimana yang mereka katakan) untuk mengejar pribadi atau kelompok tertentu, melainkan mengincar kebangkitan dan perlawanan jihad untuk mengguncang pilar-pilar seluruh kekuatan dunia Islam. Inilah fakta yang selalu kalian tolak dan seolah-olah tidak kalian ketahui.
Awal dan Akhir yang Menentukan
Syekh Aiman Az Zawahiri dalam video tersebut akhirnya berpesan kepada umat Islam agar tetap mewaspadai sepak terjang Amerika, meskipun telah berganti kepemimpinan pada hakikatnya tetap melanjutkan kebijakan Perang Salib kepada Islam dan kaum Muslimin. Amerika tetap akan mengekspansi, dan menduduki negeri-negeri kaum Muslimin. Adapun satu-satunya cara untuk menghalau Amerika hanyalah dengan jalan atau melalui putra-putra terbaik kalian, mujahidin.
Syekh Aiman juga menyatakan rasa terima kasih dan penghormatan yang setinggi-tinginya kepada mujahidin yang tengah berjuang di Iraq, Somalia secara khusus dan mujahidin di mana pun berada umumnya, serta menasehatkan mereka agar tetap istiqomah menghadapi pelbagai rintangan dan cobaan.
Terakhir Syekh Aiman memperingatkan rakyat Amerika yang telah melakukan pilihan kepada presiden Bush dan kini Obama yang pada hakikatnya menerapkan kebijakan yang sama saja, yakni memusuhi Islam dan kaum Muslimin. Untuk itu, mereka harus siap menerima segala reksiko akibat pilihan mereka tersebut.
Barack Obama sendiri telah menunjukkan jati dirinya, serta pembelaannya kepada ‘anak emas’ Amerika, zionis yahudi. Barack Obama telah menunjukkan betapa terlahir dari seorang ayah yang muslim bukanlah jaminan untuk kemudian juga menjadi seorang muslim dan berpihak kepada Islam dan kaum Muslimin, Sementara itu, seorang Malcom X yang terlahir dari seorang ayah kristen, namun akhirnya menjadi muslim yang sholeh, dan berjuang untuk tegaknya Islam, bahkan mati ketika memperjuangkan Islam. Subhanallah!
Kesimpulannya, meskipun Barack Obama dan Malcom X sama-sama berasal dari ras yang sama (negro), dan kedua-duanya juga dikenal sebagai orator ulung, smpatik, penuh kharismatik dan disukai banyak orang, namun keimanan dan pilihan akhir hidup mereka tidaklah serta merta sama. Petunjuk atau hidayah senyatanya adalah hak dan kehendak Allah SWT kepada siapa pun yang dikehendakiNya.
Sungguh, petunjuk (hidayah) itu semata-mata dari Allah Ta’ala. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada seorangpun yang bisa menyesatkannya, dan sebaliknya siapa yang Allah sesatkan, tidak ada seorangpun yang bisa menunjukkannya.
Wallahu’alam bis Showab!
By: M. Fachry
International Jihad Analysis
Rabu, 18 Agustus 2010
teroris itu ada berapa yuah?????

Ketika Amerika Serikat menyerang Afghanistan pada 2001, saya mengajukan pertanyaan yang saya kirimkan ke mana-mana. Jika memang alasan Amerika Serikat menyerang Afghanistan adalah terorisme, ada berapa teroris yang kemungkinan bisa dihitung bermukim di Afghanistan?
Apakah ada 10 orang? Ada 100 orang? Apakah malah lebih besar dari itu, 10.000 orang? Bahkan, apakah lebih besar lagi? Bagaimana dengan 100.000 orang?
Pertanyaan serupa saya ulang kembali ketika Amerika Serikat menyerang Irak pada pertengahan tahun 2003. Jika memang alasan menyerang Irak adalah ancaman terorisme dan senjata pemusnah massal. Ada berapa senjata pemusnah massal yang tersimpan di Irak? Ada berapa teroris yang bernaung di negeri itu?
Apakah ada 10 orang? Ada 100 orang? Apakah malah lebih besar dari itu, 10.000 orang? Bahkan, apakah lebih besar lagi? Bagaimana dengan 100.000 orang?
Asal tahu saja, saya akan berbagi angka tentang orang-orang yang mati di Afghanistan dan Irak atas nama perang terorisme. Di dua negeri itu, nyawa yang melayang sudah mendekati angka 1.000.000 jiwa. Tepatnya, awal bulan Agustus ini, setidaknya ada 919,967 nyawa yang telah melayang. Tampaknya, jumlah itu masih akan bertambah besar. Apakah memang sebesar itu jumlah teroris yang ada di dua negeri itu? Apakah sebanyak itu jumlah orang yang “harus dibunuh” karena dituduh teroris?
Angka di atas, Saudara, belum termasuk yang meninggal di Pakistan dan perbatasan Irak. Ada penduduk sipil, ada anak-anak, ada orang-orang lanjut usia. Bahkan, tentara Pakistan, Afghanistan, Taliban, bahkan Amerika sendiri.
Pertanyaan yang sama akan saya ajukan untuk kasus Indonesia. Wabil khusus kepada Detasemen Khusus 88 dan kepolisian. Begitu juga kepada Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sering merasa terancam dan menjadi penanggung jawab dari sebuah negeri Muslim terbesar di dunia bernama Indonesia.
Kira-kira, berapakah jumlah teroris yang mampu bapak-bapak bayangkan berada di Indonesia? Apakah ada 10 orang? Ada 100 orang? Apakah malah lebih besar dari itu, 10.000 orang? Bahkan, apakah lebih besar lagi? Bagaimana dengan 100.000 orang?
Sekadar catatan. Sepanjang tahun 2003 sampai dengan 2009, Detasemen Khusus 88 telah melakukan 500 lebih penangkapan tersangka yang disebut teroris. Sebanyak 40 orang tertembak mati. Bahkan, selama Januari hingga Mei, ada 58 kasus penangkapan dan 13 di antaranya tertembak mati! Saya ulangi sekali lagi-kali ini dengan huruf besar-MATI!
Mereka yang ditembak mati itu tanpa melalui proses pengadilan. Tanpa melalui persidangan. Bahkan, banyak sekali menyisakan cerita keganjilan. Perlu berapa orang lagi yang harus mati dengan dalih terorisme yang seolah tak ada habisnya ini.
Di tengah persiapan kaum Muslim menyambut dan melaksanakan ibadah pada bulan suci Ramadhan, lagi-lagi Detasemen Khusus 88 menyajikan kejutan. Ustaz Abu Bakar Ba'asyir, yang berusia lebih dari 60 tahun, ditangkap dengan beberapa orang lainnya. Polisi menjelaskan, ustaz sepuh ini terkait, mengetahui, bahkan mengizinkan, dan seterusnya mendanai kegiatan-kegiatan pelatihan terorisme di Aceh. Ini bukan tuduhan ringan, Saudara!
Terkait, mengetahui, mendanai, mengizinkan, dan mengontrol seluruh kegiatan terorisme yang ada di Aceh beberapa waktu lalu. Ini benar-benar besar!
Seberapa besar tenaga simpatisan terorisme yang bisa diprediksi polisi? Apakah ada 10 orang? Ada 100 orang? Apakah malah lebih besar dari itu, 10.000 orang? Bahkan, apakah lebih besar lagi? Bagaimana dengan 100.000 orang? Perlu penangkapan dan penembakan mati berapa kali lagi? Sampai di mana habisnya isu terorisme ini?
Berdasarkan Undang-Undang Terorisme, Polri diizinkan menahan dan memeriksa seseorang 7 x 24 jam tanpa perlu mengeluarkan surat penangkapan. Berdasarkan undang-undang yang sama, ustaz sepuh yang mengabdikan diri berdakwah itu ditangkap dan dituduh. Tuduhan-tuduhan yang dikaitkan benar-benar besar. Kabareskrim Komjen Ito Sumardi mengatakan, proses yang telah dilakukan sudah lama, berbulan-bulan, bahkan lebih dari setahun. Kapolri juga menegaskan bahwa tidak ada pesanan dari negara mana pun, termasuk Amerika Serikat. Bahkan, Jenderal Bambang Hendarso Danuri meminta masyarakat untuk tidak su'udzan pada Polri.
Polri mengatakan, pihaknya memiliki bukti-bukti kuat yang dapat menunjukkan keterlibatan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir dalam pelatihan militer kelompok teroris di Pegunungan Jalin, Jantho, Aceh Besar. Semua itu akan diungkapkan di pengadilan nanti.
Kita masih ingat semua, pengadilan atas diri Ustaz Abu Bakar Ba'syir sebelumnya, putusan pengadilan menetapkan bahwa beliau ditahan bukan atas dasar terorisme, tapi lebih karena kesalahan administrasi, seperti pemalsuan identitas dan keterangan. Jika kesalahan administrasi seperti ini mampu dikejar dengan sangat gigih, bagaimana dengan kesalahan prosedur atas kasus lumpur Lapindo yang mengorbankan ribuan warga Sidoarjo? Bagaimana dengan kesalahan prosedur operasional SNI dalam kasus tabung gas elpiji 3 kg yang menewaskan lebih dari 30 orang? Bagaimana dengan kesalahan prosedur kasus Gayus yang melibatkan seluruh punggawa penegak hukum dari kejaksaan, hakim, hingga kepolisian?
Jika semua ternyata terbukti sebagai kezaliman dan ketidakadilan, saya berdoa kepada Allah pada bulan suci Ramadhan ini agar diizinkan kelak di depan pengadilan yang tidak satu pun orang bisa berdusta untuk bersaksi dan menuntut para pemimpin yang telah membiarkan kezaliman terjadi. Ya, Allah, izinkan saya menggugat para pemimpin yang telah membiarkan ketidakadilan menimpa rakyat yang dipimpinnya. Tidak saya tentang seorang ustaz, tapi juga tentang orang-orang terzalimi dan mereka yang mengalami segala ketidakadilan yang dilakukan oleh negara dan para pemimpinnya.
Oleh Herry Nurdi
(Jurnalis Muslim)
http://koran.republika.co.id/koran/0/117246/Apa_itu_Terorisme
Read More...