Halaman

Sabtu, 18 September 2010

LIBERALISASI DI INDONESIA (5-HABIS)

Share




Faktor Asing

Setelah Perang Dingin berakhir, Barat memiliki pandangan dan kebijakan khusus terhadap Islam. Pada masa Perang Dingin, Komunisme dianggap sebagai musuh utama, sehingga Barat bersama-sama dengan Islam menghadapi komunisme, seperti yang terjadi di Afghanistan. Tetapi, setelah komunis runtuh, musuh bagi Barat berikutnya adalah Islam.

Karena Islam dipandang sebagai musuh atau ancaman potensial bagi Barat, maka berbagai daya upaya dilakukan untuk 'menjinakkan' dan melemahkan Islam. Salah satu program yang kini dilakukan adalah dengan melakukan proyek liberalisasi Islam besar-besaran di Indonesia dan dunia Islam lainnya. Proyek liberalisasi Islam ini tentu saja masih menjadi bagian dari 'tiga cara' pengokohan hegemoni Barat di dunia Islam, yaitu melalui program kristenisasi, imperialisme modern, dan orientalisme.

David E. Kaplan menulis bahwa sekarang AS menggelontorkan dana puluhan juta dollar dalam rangka kampanye untuk--bukan hanya mengubah masyarakat muslim--tetapi juga untuk mengubah Islam itu sendiri. Menurut Kaplan, Gedung Putih telah menyetujui strategi rahasia, yang untuk pertama kalinya AS memiliki kepentingan nasional untuk mempengaruhi apa yang terjadi di dalam Islam. Sekurangnya di 24 negara muslim, AS secara diam-diam telah mendanai radio Islam, acara-acara TV, kursus-kursus di sekolah Islam, pusat-pusat kajian, workshop politik, dan program-program lain yang mempromosikan Islam moderat (versi AS). (Terjemahan dari David E. Kaplan, Hearts, Minds, and Dollars, www.usnews.com, 4-25-2005).

Salah satu LSM asing yang sangat aktif dalam menyebarkan paham liberalisme dan pluralisme agama di Indonesia adalah The Asia Foundation. Untuk menanamkan paham dan nilai-nilai inklusif dan pluralis di kalangan muslim Indonesia, TAF telah mendukung berbagai kelompok berbasis muslim sejak tahun 1970-an. The Asia Foundation saat ini mendukung lebih dari 30 LSM yang mempromosikan nilai-nilai Islam yang dapat menjadi basis bagi sistem politik demokratis, nonkekerasan, dan toleransi beragama. Dalam bidang pendidikan kewarganegaraan, HAM, rekonsiliasi antar-komunitas, kesetaraan gender, dan dialog antar-agama, The Asia Foundation juga bekerja sama dengan LSM-LSM tersebut untuk mempromosikan Islam sebagai katalisator demokratisasi di Indonesia. Program-program itu mencakup training bagi pemuka agama, studi tentang isu-isu gender dan HAM dalam Islam, pusat-pusat advokasi wanita, dan sebagainya. (http://www.asiafoundation.org/Locations/indonesia.html. Website The Asia Foundation sampai dengan 24 Maret 2006, masih menulis tajuk pembukanya dengan kata-kata: "Reformasi Pendidikan Dan Islam Di Indonesia").

Organisasi-organisasi di Indonesia yang diberikan pendanaan oleh The Asia Foundation di antaranya:
1. Yayasan Desantara (Pluralisme agama, penerbit majalah Syir'ah).
2. Lembaga Studi Agama dan Demokrasi (Elsad) (Pluralisme agama dan demokrasi).
3. Fahmina Institute (Pluralisme gender equality).
4. Indonesia Center for Civic Education (Demokrasi).
5. International Center for Islam Pluralism (ICIP) (Pluralisme agama).
6. Indonesia Conference on Religion and Peace (Pluralisme agama).
7. Institut Arus Informasi (ISAI) (Pluralisme dan jurnalisme).
8. Jaringan Islam Liberal (JIL) (Liberalisasi pemikiran).
9. Paramadina (Pluralisme agama).
10. Pusat Studi Antar Komunitas (Pusaka) Padang (Demokrasi)
11. Pusat Studi Wanita-UIN- (Gender equality).
12. Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) (Gender equality).
13. Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) (Penerbitan buku-buku pluralisme).
14. Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdhatul Ulama (Pluralisme agama, dekonstruksi syariah).
15. Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah (Pluralisme agama).
16. Dan puluhan LSM serta organisasi sejenis lainnya.

Kebijakan untuk mengubah kurikulum dan pemikiran Islam juga pernah diungkapkan oleh Menhan AS, Donald Rumsfeld. "AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru, lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka." (Harian Republika, 3/12/2005).

Maka, dengan dukungan dana yang besar-besaran, AS dan sekutunya, serta kaki tangannya di Indonesia, berupa LSM-LSM asing, kemudian melakukan program perubahan dan penghancuran pemikiran Islam secara besar-besaran. Tetapi, sayangnya ada saja sebagian kalangan umat dan lembaga Islam yang terpengaruh oleh iming-iming duniawi dari lembaga-lembaga asing yang sedang bergentayangan mencari mangsa bersama para kaki tangannya di Indonesia.

Liberalisasi di Perguruan Tinggi Islam

Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan yang lainnya adalah pelopor liberalisasi Islam di organisasi Islam dan masyarakat. Adapun Harun Nasution adalah pelopor liberalisasi Islam di kampus-kampus Islam. Ketika menjadi rektor IAIN Ciputat, Jakarta, Harun mulai melakukan gerakan yang serius dan sistematis untuk melakukan perubahan dalam studi Islam. Ia mulai dari mengubah kurikulum IAIN.

Pada Agustus 1973 rektor IAIN se-Indonesia mengadakan rapat di Ciumbuluit Bandung. Hasil dari rapat itu adalah Departemen Agama RI memutuskan buku karya Harun Nasution sebagai buku wajib rujukan mata kuliah Pengantar Agama Islam. Buku kontroversial yang ditulis Harun itu berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Harun Nasution ketika itu mengakui tidak semua rektor menyetujuinya. Sejumlah rektor senior menentang keputusan tersebut. Tetapi, entah mengapa keputusan itu tetap dijalankan oleh pemerintah.

Pada tanggal 3 Desember 1975, Prof. HM Rasjidi, Menteri Agama pertama, sudah menulis laporan rahasia kepada Menteri Agama dan beberapa eselon tertinggi di Depag. Dalam bukunya, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”, Prof. Rasjidi menceritakan isi suratnya: "Laporan Rahasia tersebut berisi kritik terhadap buku Sdr. Harun Nasution yang berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Saya menjelaskan kritik saya fasal demi fasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementerian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementerian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan sebagai buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia." (HM Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang 'Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya' [Jakarta: Bulan Bintang, 1977], hlm. 13).

Selama satu tahun lebih surat Prof. Rasjidi tidak diperhatikan. Rasjidi akhirnya mengambil jalan lain untuk mengingatkan Depag, IAIN, dan umat Islam Indonesia pada umumnya. Setelah nasihatnya tidak diperhatikan, ia menerbitkan kritiknya terhadap buku Harun tersebut. Maka, tahun 1977 lahirlah buku Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tersebut.

Nasihat Prof. Rasjidi sangat penting untuk direnungkan saat ini, mengingat buku Harun itu memang penuh dengan berbagai kesalahan fatal, baik secara ilmiah maupun kebenaran Islam. Salah satu contoh kesalahan fatal itu seperti berikut. Harun menempatkan Islam sebagai agama yang posisinya sama dengan agama-agama lain, sebagai evolving religion (agama yang berevolusi). Padahal, Islam adalah satu-satunya agama wahyu, yang berbeda dengan agama-agama lain. Agama-agama lain, selain Islam, merupakan agama sejarah dan agama budaya (historical and cultural religion). Harun menyebut agama-agama monoteis--yang dia istilahkan juga sebagai 'agama tauhid'--ada empat: Islam, Yahudi, Kristen, dan Hindu. Ketiga agama pertama, kata Harun, merupakan satu rumpun. Agama Hindu tidak termasuk dalam rumpun ini. Harun menambahkan bahwa kemurnian tauhid hanya dipelihara oleh Islam dan Yahudi. Adapun kemurnian tauhid agama Kristen dengan adanya paham Trinitas, sebagaimana diakui oleh ahli-ahli perbandingan agama, sudah tidak terpelihara lagi. (Lihat Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya [Jakarta: UI Press, cet ke-6, 1986], Jilid I, hlm. 15-22).

Kesimpulan Harun bahwa agama Yahudi itu sebagai agama tauhid murni, seperti halnya agama Islam, adalah kesimpulan yang ngawur dan tidak berdasar. Kalau Yahudi merupakan agama tauhid murni, mengapa di dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Yahudi itu kafir ahlul kitab? Kesimpulan Harun itu jelas mengada-ada. Sejak lama Prof. Rasjidi sudah memberikan kritik keras bahwa uraian Dr. Harun yang terselubung uraian ilmiah sesungguhnya mengandung bahaya bagi generasi muda Islam. Bahayanya adalah memudarkan keimanan atau kayakinan seseorang terhadap kebenaran agama yang dipeluknya.

Namun anehnya, kritik-kritik tajam Prof. Rasjidi seperti itu tidak digubris oleh petinggi Depag dan IAIN. Malah, bukannya bersikap kritis, banyak ilmuwan yang memuji-muji Harun Nasution secara tidak proporsional. Prof. Dr. Said Agil al-Munawwar, misalnya, menulis: "Karena itu, beliau diteladani oleh para intelektual maupun generasi berikutnya. Harun Nasution adalah sebagai salah seorang tokoh pembaru diantara sedikit tokoh yang ada, ia termasuk tokoh sentral dalam menyemaikan ide pembaruan bersama tokoh lainnya di Indonesia.Tokoh-tokoh elitis kaum pembaru dimaksud diantaranya; Nurcholish Madjid, Utomo Dananjaya, Usep Fathudin, Djohan Effendi, Ahmad Wahid, M. Dawam Rahardjo, Adi Sasono, Abdurrahman Wahid, Jalaluddin Rakhmat, Ahmad Syafii Ma'arif, Muhammad Amien Rais dan Kuntowijoyo .... Harun sangat tepat disebut pemancang perubahan dalam tradisi akademik di lingkungan perguruan tinggi Islam Indonesia." (Abdul Halim (ed), Teologi Islam Rasional [Ciputat Press, 2005], hlm. xvi-xvii).

Meskipun bukan bidangnya, Prof. Malik Fadjar juga ikut-ikutan memberikan pujian berlebihan dan tanpa sikap kritis terhadap Harun Nasution: "Usaha dan kerja keras Harun Nasution dalam pengembangan Islamic Studies di Indonesia patut dihargai. Harun seyogyanya dianugerahi sebagai tokoh Islamic Studies di Inonesia." (Abdul Halim (ed), Teologi Islam Rasional [Ciputat Press, 2005], back cover).

Secara kualitas dan teknik penulisan ilmiah, buku Harun itu sebenarnya juga sudah perlu direvisi total. Tetapi, sekali lagi, kesalahan yang fatal itu dibiarkan saja selama 30 tahun lebih. Jika buku yang mengandung 'virus pemikiran' itu diajarkan secara terus-menerus, bisa dipahami, jika kerusakan yang sudah semakin parah itu telah menular ke mana-mana. Entah mengapa, masalah yang serius dan separah ini sekian lama dibiarkan oleh lembaga-lembaga Islam di Indonesia. Hingga kini belum ada lembaga Islam, khususnya perguruan tinggi Islam, yang secara resmi meminta pemerintah menarik kembali buku Harun Nasution tersebut.

Kini telah kita ketahui bahwa ternyata umat Islam Indonesia benar-benar sedang menghadapi ujian keimanan yang sangat berat. Di tengah berbagai krisis dan keterpurukan, umat Islam direkayasa, dirusak, dan diserbu besar-besaran dengan paham-paham syirik modern dan berbagai pemikiran liberal. Sendi-sendi ajaran dan keyakinan umat Islam sedang dibongkar habis-habisan.

Ironisnya, ujung tombak dari penyebaran paham ini justru berasal dari individu, tokoh, cendekiawan, ulama, dan lembaga yang secara formal menyandang nama Islam. Tentu saja ini tantangan yang sangat berat. Para ulama yang seharusnya menjaga agama justru malah merusak agama. Inilah zaman fitnah, zaman yang tidak jelas lagi mana yang haq dan mana yang bathil.

Rasulullah saw. sudah pernah mengingatkan: "Yang merusak umatku adalah orang alim yang durhaka dan ahli ibadah yang bodoh. Seburuk-buruk manusia yang buruk adalah ulama yang buruk, dan sebaik-baik manusia yang baik adalah ulama yang baik." (HR Ad-Darimy).
Juga, sabdanya, "Termasuk di antara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang Al-Qur'an." (HR Thabarani dan Ibn Hibban).

Di tengah ujian berat proyek liberalisasi Islam secara besar-besaran ini, kita berdoa, mudah-mudahan tidak banyak orang yang tergoda oleh berbagai bujukan dan tipuan duniawi yang ditujukan untuk menghancurkan kekuatan Islam dari dalam.

Bisa dikatakan, liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah tantangan yang terbesar yang dihadapi semua komponen umat Islam, baik pondok pesantren, perguruan tinggi Islam, ormas Islam, lembaga ekonomi Islam, maupun partai politik Islam. Sebab, liberalisasi Islam telah menampakkan wajah yang sangat jelas dalam menghancurkan Islam dari asasnya, baik aqidah Islam, Al-Qur'an, maupun syariat Islam.

Kita harus membentengi keimanan kita, keluarga kita, dan jamaah kita dengan meningkatkan ilmu-ilmu keislaman yang benar dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.

"Ya Allah, tunjukkanlah yang benar itu benar dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk mengikutinya; dan tunjukkanlah yang bathil itu bathil, dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk menghindarinya. Allahumma amin."

SUMBER:RISALAHJIHAD.BLOGSPOT.COM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...